Selasa, 20 November 2012

BP Migas Berpihak ke Asing? Ini Kata Raden Priyono

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) dituding memihak perusahaan asing. Benarkah? Ini penuturan mantan Kepala BP Migas Raden Priyono saat bertemu Kompas.com dan Tribunnews di sebuah restoran di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (20/11/2012).
Priyono mengatakan, perusahaan migas asing sudah ada sejak zaman dulu, mulai dari zaman penjajahan, Soekarno, maupun Soeharto. "Itu kan ada semua, enggak pernah hilang itu. Bahkan zamannya Pertamina itu puncaknya. Kita tidak pernah mengundang asing. Jadi perusahaan asing yang sekarang ini warisan Pertamina semua, yang mengundang Pertamina," ucap Priyono.
Memang sebelum ada BP Migas, Pertamina menjadi pemegang Kuasa Pertambangan, regulator sekaligus operator. (Lihat Kronologi Pergeseran Pengelolaan Sumber Daya Migas Indonesia).
Priyono menyebutkan, kala Pertamina menjadi regulator sekaligus pemain, wilayah-wilayah yang bagus justru diserahkan kepada perusahaan-perusahaan asing. "Jadi pertanyaan kami, kenapa dulu tidak diambil saja oleh Pertamina atau minta sebagian interest-nya?" kata dia.
Dengan demikian, sebut Priyono, tidak adil bila saat ini banyak perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia, kemudian BP Migas yang disalahkan memihak asing. "Enggak fair kalau itu menjadi tanggung jawab BP Migas. Kita dituduh memihak asing karena banyak perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Mereka ada jauh sebelum ada BP Migas," tegasnya.
Ia mengakui, setelah BP Migas, perusahaan asing memang bertambah. Tetapi, dia berkelit, hingga saat ini perusahaan tersebut masih banyak yang belum beroperasi. "Dan waktu tender itu bukan BP Migas. Kami hanya badan pelaksana saja. Yang menyiapkan, memproses, dan mengundang, semua Kementerian ESDM. Kita melaksanakan yang diberikan negara, kita tidak boleh mempunyai inisiatif karena kita bukan badan yang membuat inisiatif tentang wilayah kerja," paparnya.


Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/11/21/10485378/BP.Migas.Berpihak.ke.Asing.Ini.Kata.Raden.Priyono


Analisis
Menurut saya, tidak adil bila saat ini banyak perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia, kemudian BP Migas yang disalahkan memihak perusahaan asing. karena sebelum BP Migas banyak perusahaan asing yang sudah beroperasi di Indonesia. jadi bukan semua kesalaha BP Migas karena BP Migas hanya sebagai badan pelaksana saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar