KOMPAS.com - Suara terompet kapal untuk ketiga
kalinya terdengar sampai rumah penduduk di Makassar, Sulawesi Selatan,
dalam radius 3 kilometer. Artinya, kapal samudra segera berlayar. Ini
juga berarti kopi, teh, pala, lada, cengkeh, wijen, telur ikan terbang,
dan rumput laut dari Indonesia timur bertolak ke Eropa, Timur Tengah,
serta Amerika Serikat.
Sejak abad ke-15, para pelaut dan
saudagar Eropa, misalnya dari Inggris, Belanda, dan Portugis, sudah
mencium aroma wangi kopi dan teh negeri ini. Mereka juga tertarik pada
pala, lada, cengkeh, bahkan cabe rawit. Mereka malah menjajah negeri
kepulauan ini.
Akan tetapi sejak beberapa dekade ini, Indonesia
justru menjadi penonton kehebatan sejumlah negara di bidang perkebunan
teh, kopi, dan lada. Ekspor teh memang masih deras, tetapi tidak seheboh
dulu. Total ekspor teh 112.500 ton, tetapi impor mencapai 24.000 ton.
Dari hitungan Indonesia masih surplus. Namun, makin besarnya impor
tampaknya aneh sebab Indonesia produsen teh yang subur.
Di
panggung kopi, Indonesia juga merisaukan. Tahun 2011, total ekspor kopi
352.007 ton, turun 21 persen dari tahun 2010. Adapun produksi kopi
tahun 2011 sebanyak 633.900 ton, turun 7 persen dari tahun 2010. Tahun
2012 produksi kopi bakal turun hingga 600.000 ton. Adapun impor kopi
(biji kopi, kopi instan, dan kopi olahan) periode Januari-April 2012
sebanyak 38.799 ton. Periode yang sama tahun lalu hanya 27.505 ton.
Hal
yang lebih dramatis, sejumlah negara, seperti Inggris, India,
Pakistan, dan China, tidak saja berlari kencang dalam memproduksi teh,
tetapi juga membangun nama besar. Di pasar-pasar dunia ramai dibahas
teh Inggris, Sri Lanka, India, dan China. Telinga kita sangat akrab
mendengar English breakfast atau English tea, Japanese tea, dan Oeloong cha. Jarang diperbincangkan di warung kopi atau di kafe-kafe menyangkut Indonesian tea atau Java tea.
Indonesia
kalah dalam produksi yang turun dan impor yang naik. Dari segi nama,
Indonesia juga kalah. Negeri ini punya teh wangi dan bermutu, tetapi
tanpa nama. Tentu teh yang banyak disebut tadi bisa jadi sebagian
diproduksi di Indonesia. Sayangnya, nama Indonesia tidak berbekas. Ini
namanya ”ayam punya telur, sapi yang dapat nama” alias ”telur mata
sapi”.
Kalau punya waktu, cobalah datang ke kafe-kafe di pelbagai
kota besar di Indonesia. Berapa persen teh dan kopi dengan nama
Indonesia? Tidak jelas, apakah para pembesar negeri ini terusik
mendengar nama-nama teh dan kopi berbau asing.
Ini memang
terkesan sepele. Masalahnya, kita dari eksportir murni berubah jadi
importir kopi dan teh. Banyak penyebab penurunan ini, di antaranya
optimalisasi lahan yang belum tercapai dan berkurangnya minat dan areal
tanam kopi dan teh.
Kapal samudra masih berlayar, tetapi harum wangi teh dan kopi hanya tercium sejenak
Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/10/19/07331967/Teh.Wangi.Indonesia
Analisis
Menurut saya, ini sangat bagus karena barang yang d produksi di Indonesia bisa dijual dikalangan Internasional misalnya ke Eropa, Timur Tengah,
serta Amerika Serikat. produk yang d hasilkan tidak sedikit melainkan banyak seperti kopi, teh, pala, lada, cengkeh, wijen, telur ikan terbang,
dan rumput laut. kita harus bangga dengan ini karena produk kita bisa terkenal d luar sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar